Balikpapan, 29 September 2026 — Majlis Al Tazkiyah Cabang Balikpapan sukses menyelenggarakan kajian keagamaan bertema “Tantangan Kontemporer dan Fikih Peradaban” bersama RKH Fauzi Abu Ubaidah Ibrahim. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung PCNU Kota Balikpapan dan disambut hangat oleh para tokoh keagamaan serta jamaah yang hadir.
Kajian ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum untuk memperluas wawasan keislaman dalam menyikapi berbagai persoalan dan dinamika kehidupan kontemporer. Melalui kajian tersebut, jamaah diajak untuk melihat persoalan keagamaan secara lebih luas dengan memperhatikan keterkaitan antara nash-nash syariat, khazanah keilmuan Islam, dan perkembangan pemikiran manusia.
Dalam pemaparannya, RKH Fauzi Abu Ubaidah Ibrahim menyampaikan sejumlah pembahasan yang bersumber dari literatur keislaman klasik. Salah satu materi yang ditampilkan dalam cuplikan slide kajian adalah pembahasan mengenai nash-nash syariat yang berkaitan dengan persoalan langit dan bumi serta upaya mempertemukan pemahaman terhadap nash dengan dalil akal yang bersifat pasti.
Dalam materi tersebut disebutkan:
المباحثة الأولى
الفصل الأول
في رد الشبه عن النصوص الشرعية الواردة في السماويات والأرضيات، أو التوفيق بينها وبين ما قام عليه الدليل العقلي القاطع مناقضا لظواهرها
Pembahasan tersebut pada intinya menguraikan bagaimana sejumlah persoalan yang berkaitan dengan ayat maupun teks keagamaan dipahami melalui pendekatan keilmuan, termasuk ketika terdapat kesan pertentangan antara makna lahiriah suatu teks dengan dalil rasional yang dianggap pasti.
Salah satu contoh yang dibahas adalah persoalan mengenai bentuk bumi. Materi tersebut mengutip firman Allah SWT:
والأرض بعد ذلك دحاها
yang terdapat dalam QS. An-Nazi'at ayat 30.
Dalam literatur yang dikutip pada kajian tersebut dijelaskan adanya perbedaan pandangan ulama dalam memahami ayat tersebut. Sebagian ulama pada literatur klasik memahami kata “dahāhā” dalam konteks bumi yang dihamparkan atau dibuat layak untuk kehidupan, sementara sebagian ulama lainnya berpendapat mengenai bentuk bumi yang bulat. Imam Fakhruddin ar-Razi disebut sebagai salah satu ulama yang berpendapat demikian.
Menurut penjelasan yang disampaikan dalam materi, perbedaan tersebut tidak semata-mata ditempatkan sebagai pertentangan antara agama dan akal, tetapi menjadi bagian dari proses tafsir, takwil, dan pembahasan ilmiah dalam khazanah intelektual Islam.
Kajian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi keilmuan Islam memiliki ruang yang luas untuk membahas persoalan-persoalan yang muncul seiring perkembangan zaman. Pembahasan antara nash, akal, dan realitas menjadi salah satu bagian penting dalam upaya memahami persoalan kontemporer dengan tetap berpijak pada khazanah keislaman.
Kegiatan Majlis Al Tazkiyah Cabang Balikpapan ini diharapkan dapat terus menjadi wadah penguatan literasi keagamaan dan silaturahmi masyarakat, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan pemikiran dan perubahan sosial di tengah perkembangan zaman.
Majlis Al Tazkiyah Balikpapan berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang-ruang kajian yang mendorong jamaah memperluas wawasan keislaman, memperkuat tradisi keilmuan, serta membangun pemahaman agama yang relevan dengan persoalan kehidupan masyarakat.
